BI : Indonesia harus kejar ketertinggalan industri syariah BI : Indonesia harus kejar ketertinggalan industri syariah Banjarmasin (EKRAF News) – Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Jardine A Husman mengatakan saat ini Indonesia harus mengejar kertertinggalan perkembangan industri syariah dibanding beberapa negara tetangga yang telah sangat maju.

Menurut Jasmine pada seminar pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Bank Indonesia Kalimantan Selatan di Banjarmasin Rabu, selama ini Indonesia baru mampu menjadi pasar yang besar atau "big market" bagi industri syariah, tetapi belum mampu menjadi player.

"Kita tahu Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi kita belum mampu menjadi pemain, kita baru pada tatanan sebagai pasar besar bagi produk syariah," katanya.

Beberapa negara, tambah dia, telah mampu menjadikan produk syariah, sebagai potensi pertumbuhan ekonomi baru dan telah mampu mengembangkan dan mendeklarasikan diri sebagai eksportir besar produk-produk syariah.

Seperti Tiongkok, menjadi negara pengekspor baju muslim tertinggi ke Timur Tengah dengan nilai ekspor mencapai 28 miliar dolar AS, kemudian London, Inggris, sebagai pusat keuangan syariah di Barat.

Selanjutnya, Dubai sebagai ibukota ekonomi syariah dan Arab Saudi, merupakan pusat Islam dunia dan Brazil sebagai pemasok daging unggas terbesar ke Timur Tengah.

Sedangkan Korea, memiliki visi menjadi destinasi atau tujuan utama pariwisata halal dunia, menyusul Jepang, yang bertekad menjadi pusat industri halal dan kontributor kunci 2020.

Malaysia, yang merupakan tetangga terdekat Indonesia, juga memiliki visi menjadi pusat industri halal dan kuangan syariah global di 2020, terakhir Australia, kini telah menjadi pemasok daging sapi halal terbesar ke Timur Tengah.

Lalu dimana posisi Indonesia,?. Posisi Indonesia baru sebagai BIG market, bukan sebagai player.

Indonesia, tambah dia, memang masuk dalam top 10 Expenditure di tiap industri, namun tidak sebagai player.

Mengejar kertertinggalan tersebut, Bank Indonesia telah mengambil beberapa langkah strategis, yaitu program penguatan ekonomi syariah dalam halal value chain, antara lain melalui kemandirian ekonomi pesantren.

Saat ini, upaya tersebut telah mencakup 63 pesantren di 31 wilayah Indonesia pada 2017 dan menjadi ditargetkan menjadi 100 pesantren pada 2018.

Upaya pengembangan syariah pesantren tersebut, antara lain melalui pedoman laporan keuangan pesantren.
 



Source link