Bumi Moloku Kie raha riwayatmu kini Bumi Moloku Kie raha riwayatmu kini Jakarta (EKRAF News) – Para penumpang khususnya sejumlah wisatawan nasional dibuat takjub dengan pemandangan alam yang indah dan mempesona ketika melihat ke luar jendela pesawat sekitar 10 menit menjelang pesawat mendarat di Bandar Udara Sultan Babullah, Kota Ternate, Maluku Utara.

Setidaknya itulah pengalaman berkesan yang dirasakan rombongan alumni SMA Negeri 2 Jakarta Angkatan 1980 mengawali wisata singkatnya di bumi yang kaya akan rempah, sumber daya alam dan penorama indah.

"Seeing is believing," kata salah seorang anggota rombongan itu.

Wisatawan nasional atau mancanegara yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Ternate tentu tak sabar lagi untuk mengunjungi salah satu kota yang ada di Provinsi Maluku Utara itu sebagai pintu masuk lewat udara dengan banyak benteng dan terkenal dengan wisata sejarahnya.

Sedikitnya terdapat 30 tempat wisata yang para wisatawan wajib kunjungi dan lokasinya tersebar di kabupaten-kabupaten dan kota-kota di Maluku Utara. Lima di antaranya merupakan tempat wisata alam yang menakjubkan di Ternate: Pantai Sulamadaha, Hol Sulamadaha, Pantai Tobololo, Danau Laguna dan Batu Angus.

Maluku Utara merupakan bagian dari provinsi hasil pemekaran Provinsi Maluku yang kemudian resmi menjadi sebuah provinsi pada 4 Oktober 1999. Di awal pendiriannya Provinsi Maluku Utara beribu kota di Ternate selama 11 tahun, lalu dipindahkan ke Kota Sofifi yang terletak di Pulau Halmahera.

Berbagai kabupaten dan kota di provinsi ini getol membangun industri pariwisata dan sektor-sektor terakait lainnya untuk menarik wisatawan.

Dinas Pariwisata Pemkab Halmahera Barat, misalnya, optimistis mencapai target kunjungan wisatawan yang ditetapkan Kementerian Pariwisata sebanyak 35.000 tahun ini

Pemkab Halbar menyelenggarakan Festival Teluk Jailolo (FTJ) tiap tahun dan kali ini merupakan yang ke-10 dengan target 6.000 kunjungan wisatawan. Jumlah ini belum ditambah dengan kunjungan tiga bulan terakhir yang belum terdata sehingga dipastikan target bisa terpenuhi.

Festival yang sudah masuk satu dekade ini telah menginspirasi daerah-daerah lain yang ingin melaksanakan dan mempromosikan potensi pariwisatanya melalui acara festival sebagai pemicu. Jailolo telah melahirkan tarian kontemporer "Cry Jailolo" dan "Balabala" yang telah mendunia.

Bumi Moloku Kie raha pada masa lalu pernah menjadi kawasan penghasil rempah-rempah yang diperebutkan bangsa kolonial seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan bangsa-bangsa di Asia. Karena itu untuk mengembalikan tonggak kejayaan rempah-rempah, maka tema FTJ kali ini adalah "Pesona Budaya Kepulauan Rempah (Wonderful Culture of Spice Island), yang merupakan wujud sekaligus mengangkat eksistensi kepulauan rempah dalam pesona keberagaman budaya, keindahan alam dan surga bawah laut Halmahera Barat ke tengah masyarakat lokal dan dunia.

Wisatawan yang berkunjung itu terdiri atas wisatawan mancanegara, wisatawan lokal dan wisatawan nasional. Kunjungan wisatawan ini bukan saja pada sektor pariwistaa tetapi juga pada sektor kehutanan dan kelautan. Wisatawan mengunjungi Kabupaten Halbar untuk melihat burung bidadari di Jailolo Selatan.

Di Halmahera Selatan terdapat gugusan pulau-pulai kecil di Guraici, Kayoa, menjadi tempat wisata eksotik beberapa tahun lalu. Hamparan pasir putih, laut biru bergradasi, terumbu karang, hingga tarian Pari Manta adalah hal yang paling mudah ditemui di sana. Bahkan Guraici mampu mendatangkan ratusan wisatawan tiap tahun.

Namun itu cerita lima tahun lalu, saat Gubernur Thaib Armaiyn yang rutin menggelar Festival Guraici tiap Juni. Thaib yang berasal dari Pulau Lelei memang bertekad mengumandangkan eksistensi Guraaici kepada dunia. Tapi gaungnya kembali redup setelah Thaib tidak lagi menjabat.

Pimpinan daerah penggantinya tak tertarik melirik potensi Guraici. Sejak itu pulau-pulau mungil di Kepulauan Guraici: Gunange, Laigoma, Lelei, Salo, Guraici, sapam, Joronga, Popaya, Rajawali, Darmafala, kian senyap. Sejumlah "cottage" yang dulu dibangun Pemerintah Provinsi pun tak lagi terurus.

Muhammad Kasuba, saat menjadi bupati Halmahera Selatan, getol membangun Pulau Nusara. Tapi saat dia tak menjabat, Nusara tak lagi berkilau.

Begitu pula Bupati Halsel saat ini Bahrain Kasuba yang memilih lokasi untuk pariwisata di Tanjung Pogo-Pogo. Abdul Gani Kasuba berkonseentrasi di tempat wisata lain, Widi.

Adalah Faisal Umar Djafar Kao, salah seorang pemuda Lelei dan alumni Universitas Khairun jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tahun 2016, gerah melihat kondisi itu.

"Berapa miliar rupiah yang dihabiskan para kepala daerah ini namun tak ada kelanjutannya," kata Faisal yang keprihatinannya diberitakan harian Malut Post (2 Mei 2018).

Dampak sosial

Bagi Faisal, pariwisata bukan sekedar soal keindahan suatu destinasi. Lebih dari itu ia harus memberikan dampak sosial terhadap masyarakat lokal maupun wisatawan sendiri. Faisal pun mencetuskan konsep pariwisata yang memungkinkan pelancong merasakan sensasi menajdi warga lokal sembari menikamati eksotisme Kepulauan Guraici.

Faisal sendiri bercita-cita menjadikan Guraici sebagai desa wisata. Bukan hanya keindahan pulau yang menjadi basis objek wisata, tetapi masyarakat pesisir di sana juga menjadi bagian dari potensi pariwisata.

"Tidak perlu membangun vila. Masyarakat diajak terlibat langsung dengan menyediakan `homestay`. Selain mereka bisa merasakan dampaknya langsung, ada pengalaman berharga yang bakal dirasakan wisatawan. Pokokya berwisata tak harus mewah," ujarnya.

Berbekal kemampuannya berbahasa Inggris, Faisal memberanikan diri menjadi pemandu wisata lokal. Memanfaatkan media sosial, ia mencoba menawarkan paket wisata ke Guraici, dengan gawainya, panorama kepulauan itu dipoteret lalu diunggahnya ke Istagram, WhatsApp, facebook maupun Twitter.

Gayung bersambut, ia menerima pesanan dan langsung menjemput tamunya dari Ternate. Menariknya Faisal memberi kesempatan kepada para wisatawan untuk merasakan sensasi menuju Guraici seperti warga lokal, menggunakan kapal motor reguler.

Di Guraici, tamu-tamu Faisal tak hanya berwisata dan berbaur dengan warga. Mereka juga diajak untuk meninggalkan "sesuatu" untuk Guraici, yakni membersihkan pantai bersama dan bertatap muka dengan siswa-siswi di sana.

"Kami minta mereka untuk memberikan motivasi bagi siswa-siswi SD sampai SMA supaya anak-anak terbiasa berhadapan dengan orang asing," katanya.

Sejauh ini dia berhasil menarik tamu asing antara lain dari Prancis, Korea Selatan, Filipina, dan Italia. "Open trip" yang digagas Faisal itu diberi nama "Guraici Local Guide".

GLG memastikan dampak ekonomi dari kedatangan wisatawan untuk warga setempat. Para nelayan, misalnya, diminta menyiapkan ikan segar untuk dibakar tamu di hamparan pasir putih. Harga ikannya sudah termasuk dalam biaya perjalanan.

Sultan Tidore Husain Syah mengatakan potensi industri pariwisata di maluku Utara luar biasa namun sayang masih terdapat kelemahan.

"Saya lihat masih minim koordinasi di tingkat birokrasi dan perlu langkah-langkah terintegrasi untuk memajukan industri pariwiata di provinsi ini," demikian Husain Syah.



Source link