Greenpeace halau tongkang batu bara dari Taman Nasional Karimunjawa Greenpeace halau tongkang batu bara dari Taman Nasional Karimunjawa Jakarta (EKRAF News) – Aktivis Greenpeace Indonesia menghalau tongkang batu bara yang melewati Taman Nasional Karimunjawa sebagai protes terhadap kerusakan yang terjadi pada terumbu karang di daerah tersebut dan berdampak panjang terhadap perubahan iklim.

"Perdagangan batu bara ini telah menghancurkan salah satu wilayah terindah di Indonesia, area yang dilindungi pemerintah sebagai taman nasional," kata juru kampanye Iklim dan Energi dari Greenpeace Indonesia Didit Haryo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu.

Kapal Greenpeace Rainbow Warrior kemudian mengantar tongkang batu bara keluar dari taman nasional. Selain itu, aktivis juga membentangkan pesan "Break Free From Coal" dan "Coral Not Coal".

Tongkang menjadi target karena membawa batu bara dari tambang di Kalimantan untuk pembangkit listrik di Jawa.

Di awal 2017, menurut dia, ada ratusan meter persegi karang hancur oleh lima kapal tongkang yang berada di perairan tersebut, saat kapal-kapal ini tengah berlindung selama badai.

Kepulauan Karimunjawa adalah taman nasional yang kaya akan terumbu karang, rumput laut, hutan bakau, hutan pantai, dan hutan hujan tropis dataran rendah. Tempat ini merupakan rumah bagi tiga jenis penyu dan hampir 400 spesies fauna laut, termasuk ratusan ikan hias, menjadikannya salah satu tujuan wisata paling populer di Indonesia.

Namun, menurut Didit, keindahan alam Karimunjawa dan mata pencaharian penduduk yang bekerja di industri perikanan dan pariwisata lokal kini terancam oleh tongkang batu bara yang secara rutin melintasi perairan ini.

"Bukan hanya karang yang rusak, melainkan nelayan lokal juga terkena dampaknya. Saya khawatir jika terjadi kehancuran terumbu karang, akan kehilangan industri pariwisata. Rumah, komunitas, dan mata pencaharian saya terkena dampak penggunaan batu bara. Namun, saya merasa tidak memiliki suara soal permasalahan ini," kata anggota komunitas Akar Yarhannudin.

Pada tanggal 6 Mei 2018, salah satu acara industri batu bara terbesar di dunia akan berlangsung di Bali.

Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa Asia Tenggara memiliki tingkat pencemaran udara ambien tertinggi di dunia.

Menurut Global Burden of Disease, polusi udara ambien bertanggung jawab atas 17.0 kematian prematur setiap dua hari di Asia pada tahun 2015, atau 440 kematian setiap dua hari di Indonesia.

"Tongkang-tongkang ini bagian dari industri yang merusak keindahan alam Indonesia serta mencemari udara kita. Kesehatan masyarakat terancam, sementara pertemuan industri batu bara di Bali hanya akan menghasilkan kesepakatan demi mengamankan masa depan industri batu bara," katanya.

Negara ini tidak layak menggunakan energi kotor, sudah saatnya pemerintah berpihak pada rakyat ketimbang industri batu bara dan segera beralih ke energi terbarukan, kata Didit Haryo.



Source link