Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNNEWS.COM, PEKALONGAN – Calon Wakil Presiden nomor urut 2, Sandiaga Uno kunjungi Kampung Batik Pesindon, Kelurahan Bendan Kergon Kecamatan Pekalongan Barat, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (25/9/2018).

Kedatangan Sandiaga disambut ratusan warga yang mayoritas pengrajin batik.

Walaupun blusukan yang dilakukannya tak lama, namun, Sandiaga sempat berdialog dengan pengrajin batik yang ada di Kampung Batik Pesidon.

Dalam dialog singkat itu, Sandiaga memberikan tiga janji kepada warga, jika ia terpilih akan mencarikan solusi agar pengrajin batik dan pedagang yang ada di Kota Pekalongan tetap bisa hidup dan berkembang ditengah naiknya nilai tukar Rupiah.

“Inti pembangunan adalah ekonomi, jika ekonomi berkembang pastinya pembangunan akan berjalan maju.”

“Untuk itu, kami akan suarakan keluhan warga Kota Pekalongan terkiat industri batik, jika dolar naik dan bahan baku mahal dampaknya daya beli masyarakat menurun, untuk mengantisipasi hal tersebut, ekonomi kreatif perlu didorong dan diperkenalkan ke masyarakat terutama ke para pengerajin batik agar bisa bersaing menggunakan bahan baku alternatif,” ujarnya.

Selain membahas solusi industri batik yang kian merosot dalam hal pemasukan karena dampak mahalnya bahan baku, ia juga berjanji akan membuka gerbang perekonomian lewat jalan tol.

“Jalan tol memang ditujukan untuk rakyat, jadi UMKM berhak masuk ke rest-rest area yang ada, nanti akan kami sampaikan ke pemerintah pusat terkait penambahan rest area sepanjang jalan tol yang melintasi Kota Pekalongan dan sekitarnya,” tuturnya.

Pembangunan Pasar Banjasari juga turut disinggungnya, keluhan pedagang akan lambannya pembangunan ditanggapi Sandiaga dengan wacana pembiayaan melalui APBN.

“Intinya jika 80 persen menggunakan APBN dan 20 persen diberikan pada investor, pasar akan cepat tertangani dan pengelolaan pasar di bawah negara, kami yakin dengan menggunakan APBN Pasar Banjarsari akan lebih cepat dibangun,” imbuhnya.

Adapun, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan yang ikut dalam kunjungan, menerangkan pemerintah tidak mau direpotkan dalam hal mengatur negara dengan impor.

“Karena tak ingin direpotkan, maka keputusan impor diambil, jika gula, bawang dan barang lainya impor para petani akan mati, sebenarnya ada cara yang lebih efektif yaitu subsidi, semahal apapun kalau produk dalam negeri memang harus dibeli, maka dari itu semoga saja kebijakan yang diusung oleh Prabowo-Sandi tentang keberpihakan petani bisa merubah situasi perekonomian di Indonesia,” timpalnya. (*)



Source link