Pendekatan “soft power” China melalui kerjasama media Pendekatan "soft power" China melalui kerjasama media Wuxi, China (EKRAF News) – Sebanyak 25 wartawan dari sepuluh negara anggota ASEAN, termasuk empat di antaranya dari Indonesia, selama 11 hari mulai 3 Mei lalu, diajak berkeliling Kota Shanghai, Propinsi Zhejiang, dan Propinsi Jiangsu di China bagian timur dalam program yang dinamakan Perjalanan Media ASEAN-China dalam Rangka Jalur Sutra Maritim Abad ke-21.

Kunjungan tersebut merupakan program dari ASEAN – China Center (ACC) , organisasi non-pemerintah yang sengaja dibentuk untuk mempromosikan kerjasama antara kedua pihak dalam bidang perdagangan, investasi, pendidikan, budaya, pariwisata dan media. ACC menggandeng China Report, institusi media yang berdiri sejak 1950 dan sekarang bertransformasi dari media tradisional menjadi media berbasis digital.

Perjalanan pada program berbagai kunjungan yang cukup melelahkan tersebut dimulai dari Shanghai, kota terbesar dan pusat kegiatan ekonomi di China, kemudian berpindah ke kota di sekitarnya, yaitu kota industri Jiaxing, Shaoxing, Hangzhou dan berakhir di Wuxi, kota yang dijuluki "Mutiara dari Sungai Taihu" karena keindahan alam dan peninggalan budayanya.

Di Wuxi, seluruh rangkaian kegiatan kunjungan ditutup dengan penyelanggaraan Forum Kerjasama Media ASEAN-China yang merupakan kegiatan pertama di bidang media. Dalam kegiatan forum tersebut, ACC tidak hanya bekerja sama dengan China Report, tapi juga Pemerintah Provinsi Jiangsu.

Berbeda dengan forum kerja sama yang baru pertama kali diadakan, program kunjungan awak media ASEAN ke China tersebut adalah untuk keempat kalinya dengan tema yang berbeda-beda, tapi tetap dalam rangkaian menggelorakan dan mewujudkan ambisi negara berpenduduk 1,5 miliar itu menghidupkan kembali Jalur Sutra versi modern.

Rangkaian safari media diawali dengan mengunjungi berbagai institusi di Shanghai, dimulai dari Zona Perdagangan Bebas Shanghai, Expo Impor Internasional, bertandang ke Shanghai United Media Grup, bertemu pejabat Pemerintah Kota Shanghai, berkunjung ke Universitas Fudan dan berwisata ke Wukang Road, jalanan bersejarah dengan bangunan berarsitektur barat yang masih terpelihara dengan baik.

Tiga hari di Shanghai, perjalanan pun dilanjutkan ke Kota Jiaxing, Propinsi Zhejiang untuk melihat secara langsung kecanggihan perusahaan Wingtech Communication yang bergerak di bidang produksi komponen smart phone dan Institut Teknologi Masa Depan. Hanya sehari di Jiaxing, perjalanan pun dilanjutkan ke South Lake, tempat bersejarah tempat Partai Komunis China untuk pertama kali menggelar kongres.

Untuk menyaksikan kemajuan China dalam bidang pertekstilan, rombongan diajak menghadiri pameran produk tekstil di Kota Shaoxing yang berjarak sekitar 0 km di selatan Shanghai. Di pameran tersebut, banyak ditemui calon pembeli dari berbagai kawasan, seperti Timur Tengah dan Asia Barat dan Asia Tenggara, termasuk dari Indonesia.

"Dari seluruh pelanggan kami, yang paling banyak adalah dari Indonesia. Tadi baru saja kami bertransaksi dengan pembeli dari Indonesia," kata Jack, manajer Shaoxing Mulinsen Trading Co. Ltd, salah satu dari ratusan peserta pameran.

Bidang pendidikan juga tidak luput dari program kunjungan dan para awak media diarahkan ke Hailiang Group yang masih berada di Kota Shaoxing. Selain bergerak di bidang proses tembaga sebagai induk usaha, Hailiang Group juga mengembangkan bisnis pendidikan, yaitu Hailiang Education yang bahkan sudah terdaftar di Bursa Saham Nasdaq dengan kode HLG.

Perusahaan memfokuskan pada pendidikan tingkat TK, SD, SMP dan SMA untuk menyiapkan generasi unggul dengan menyediakan pendidikan berkualitas tinggi dan berkelas internasional. Di kompleks sekolah dengan luas lebih dari lima hektare tersebut, terdapat gedung basket dengan standar NBA dan terlihat guru-guru berwajah Eropa lalu lalang.

Target utama dari pendidikan di Hailang adalah mempersiapkan murid-murid agar mampu bersaing untuk mendapatkan tempat di berbagai perguruan tinggi ternama, baik di China maupun di luar negeri.

Tapi dari seluruh rangkaian kunjungan tersebut, yang paling menarik adalah saat diajak ke markas Alibaba Group di Hangzhou, Ibu Kota Propinsi Zhejiang. Alibaba Group yang didirikan pada 1999, saat ini adalah perusahaan retail berbasis internet terbesar kedua di dunia, atau perusahaan berbasis teknologi informasi terbesar keempat di dunia setelah Apple, Google dan Microsoft.

Pada September 2014, Alibaba Group mencatat sukses besar saat melakukan penawaran perdana (IPO) saham mereka di lantai bursa New Stock Exchange dengan meraup nilai penjualan 230 juta dolar AS hanya dalam perdagangan sehari.

Meski tidak bertemu Jack Ma, pendiri Alibaba Group, para tamu dari media ASEAN cukup puas mendapat penjelasan yang sangat detail dan informatif dari pegawai bagian komunikasi perusahaan tersebut.

Pendekatan Media

Inti dari program perjalanan media tersebut adalah upaya China untuk memperkuat hubungan dengan kawasan ASEAN yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar keenam dunia dengan totol populasi 500 juta itu melalui kekuatan media. Kalau digabung, populasi kedua kawasan tersebut berjumlah dua miliar dan akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Ambisi China untuk membangktikan kembali kejayaan Jalur Sutra telah menginspirasi Presiden Xi Jinping untuk mendeklarasikan membuka kembali jalur tersebut pada 2013, dan peran media sangat diperlukan untuk mendukung dan menggelorakan semangat itu.

Berbeda dengan Jalur Sutra kuno, Xi Jinping menyebutnya sebagai "Jalur Sutra Baru Abad ke-21" atau "The Silk Road Economic Belt and the 21st-century Maritime Silk Road". Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan beberapa koridor ekonomi yang menyambungkan lebih dari 60 negara di seluruh dunia, termasuk kawasan ASEAN.

Sejak diluncurkannya kerja sama China-ASEAN pada 15 tahun lalu, China melihat bahwa ASEAN adalah kawasan paling penting untuk mengembangkan proyek Jalur Sutra dan Jalur Maritim, dibandingkan dengan kawasan lain di Asia.

Bagi Indonesia misalnya, China adalah mitra dagang penting dengan nilai perdagangan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu kerja sama yang saat ini sedang dilaksanakan adalah pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung.

Pemerintah China menyadari bahwa kerja sama di segala bidang di negara ASEAN memerlukan sosialisi melalui pemberitaan di media massa. Masyarakat perlu mengetahui apa saja yang telah dicapai dan manfaat apa saja yang telah dirasakan dari kerja sama tersebut.

Kerja sama melalui di bidang media, seperti saling kunjung di antara media kedua pihak adalah pendekatan "soft power" yang ingin diterapkan oleh China untuk mendukung program ambisius Jalur Sutra dan Jalur Maritim. Media dari ASEAN dibuat terkesan dengan kemajuan yang telah dicapai oleh China dan mengabarkan pencapaian tersebut di negara masing-masing.

Media adalah sarana yang tepat untuk menyebarkan informasi tentang segala sesuatu yang terjadi di China, atau pun apa yang terjadi di negara ASEAN.

Wartawan senior Recto Mercene dari Filipina menilai bahwa perjalanan media ke China tersebut perlu disambut baik dan tidak perlu disikapi berbagai praduga karena pada dasarnya sangat menguntungkan kedua belah pihak.

Tapi karena kerja sama tersebut diharapkan bersifat "take and give" karena pihak China tidak ingin hanya sebagai yang memberi dan media ASEAN juga harus memberikan sesuatu, akan timbul masalah pendanaan jika giliran salah satu negara ASEAN yang diharapkan mengundang media dari China.

"Sebagai langkah awal, saya kira program ini sangat bagus. Setidaknya kedua pihak berusaha untuk mencari pola yang lebih tepat untuk pelaksanaan program kerja sama berikutnya," kata pria berusia 74 tahun itu.

Menurut Recto, salah satu cara yang bisa meningkatkan kerja sama media adalah dengan tukar menukar wartawan, bukan sekadar untuk melakukan peliputan, tapi juga langsung terjun ke masyarakat dan tinggal bersama penduduk lokal selama waktu tertentu.

Selama tinggal bersama penduduk lokal, media dari ASEAN bisa melihat langsung bagaimana kondisi masyarakat dan cara hidup mereka dan hal itu bisa menjadi cerita menarik, demikan pula sebaliknya wartawan dari China tinggal bersama dengan penduduk salah satu negara ASEAN. Dengan cara tersebut, akan tercipta hubungan antara masyarakat dengan masyarakat, tidak hanya sekadar di tatanan pejabat pemerintah atau pengusaha.

"Semoga China tetap sebagai negara yang bersahabat, yang tidak mencari hal lain selain perdamaian dan keinginan untuk menemukan tempat yang selayaknya dalam lingkungan masyarakat ASEAN," kata pria yang masih energik tersebut.



Source link